Hilangnya Pigmentasi

Author dr. Regina Stefani Roren;
Last updated on May 09, 2021

Hipopigmentasi
Hipopigmentasi merupakan kondisi perubahan warna kulit menjadi lebih terang akibat kekurangan kadar melanin di dalamnya.

*Bila sepenuhnya kehilangan pigmen melanin di dalamnya disebut depigmentasi (seringkali dianggap sama)

Bagaimana bisa terjadi?
Hipopigmentasi kulit dapat disebabkan oleh keadaan yang didapat/
acquired ataupun bawaan/ congenital. Penyebab umum hipopigmentasi dapat dilihat pada tabel 1. Kebanyakan penyebab hipopigmentasi tidak berbahaya, dapat didiagnosa secara klinis, dan dapat disembuhkan. Namun, perlu diperhatikan beberapa tanda bahaya, agar dapat segera dirujuk kepada dokter spesialis (tabel 2).

Tabel 1. Penyebab Hipopigmentasi


Tabel 2. Tanda Bahaya/ Red Flags pada Hipopigmentasi

Diagnosis hipopigmentasi dapat dilakukan secara klinis dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis yang penting termasuk data demografis (usia dan ras), serta karakteristik bercak/ lesi hipopigmentasi (awitan, penyebaran, simetris, perubahan struktur permukaan kulit, atau kondisi kulit lainnya). Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai kondisi hipopigmentasi yang umum ditemukan, yakni vitiligo, hipopigmentasi pasca-inflamasi, pityriasis versicolor, dan pityriasis alba.

Vitiligo

Vitiligo merupakan kondisi autoimun, yang menimbulkan bercak berwarna putih-kapur pada kulit, dan biasanya simetris. Presentasi awal dapat berupa bercak kabur, dengan tepi yang tidak jelas. Vitiligo menyerang 1% populasi, dengan awitan umumnya terjadi pada usia 20-30 tahun. Hal-hal yang diduga berhubungan seperti riwayat vitiligo dalam keluarga, atau kondisi autoimun lainnya (contoh: penyakit tiroid atau alopesia areata). Vitiligo tidak berbahaya, namun sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri, bahkan kualitas hidup dan karir seseorang. Diagnosis klinis dapat dibantu dengan lampu wood, dan biopsi kulit (tidak umum).


Terapi lini pertama vitiligo merupakan obat topikal seperti takrolimus 0.1% (2 kali sehari, selama 6 bulan), atau kortikosteroid topikal (contoh: clobetasol propionat 0.05%, 1 kali sehari selama 15 hari/ bulan, selama 6 bulan). Pasien dengan vitiligo luas (>10% luas permukaan tubuh) atau vitiligo yang tidak respon terapi topikal, dapat disarankan untuk fototerapi dan steroid sistemik/ oral. 


Terapi lini kedua terdiri atas fototerapi (Nb-UVB dan psoralen ditambah UVA/ PUVA) dan terapi steroid sistemik. Fototerapi efektif dalam beberapa kasus. Narrow band UVB (311 nm) hampir sama efektifnya dengan PUVA, dengan efek samping yang lebih sedikit karena pemakaian psolaren. Terapi UVB dapat digunakan secara selektif dan lokal dengan targeted phototerapy devices (contohnya excrimer lamps atau laser; maksimum 308 nm). Durasi terapi tidak pasti dan bervariasi pada prakteknya. Iradiasi dihentikan setelah 3 bulan apabila tidak terjadi repigmentasi, meskipun repigmentasi dapat muncul kemudian. Kortikosteroid oral dosis rendah atau sedang dengan betametason atau dexametason selama 3-6 bulan dapat dipertimbangkan untuk menangani vitiligo yang progresif. 


Terapi lini ketiga merupakan pembedahan (hanya dapat dilakukan pada vitiligo yang stabil/ tidak progresif) dan depigmentasi/ pemutihan kulit untuk lesi luas, dengan menggunakan benzone ethyl ester atau 4-metoksifenol, laser, dan krioterapi. Tatalaksana lainnya berupa perlindungan terhadap matahari (tabir surya, pakaian, topi, dll.) dan kosmetik (concealer).

Hipopigmentasi Pasca-inflamasi

Bercak hipopigmentasi dapat muncul pada kulit setelah inflamasi/ luka akibat eksim, psoriasis, lupus kutaneus, sarkoidosis, luka bakar, dan krioterapi. Pasien dengan warna kulit yang gelap biasanya lebih rentan mengalami hipopigmentasi/ hiperpigmentasi pasca-inflamasi. 


Kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya dengan menatalaksana penyebab yang mendasari. Meskipun proses penyembuhannya dapat mencapai beberapa bulan. Tatalaksana topikal yang digunakan untuk kondisi ini antara lain salep kortikosteroid potensi sedang dengan preparat tar, krim pimecrolimus 1%, 8-methoxypsoralen 0,1% disertai paparan sinar matahari/ UV. Penggunaan kurang lebih 16 minggu, dengan hasil maksimum nampak dalam 2 minggu pemakaian.


Terapi non-medikamentosa/ kombinasi, antara lain:

  • PUVA (psolaren topikal dan UVA) 1-3 kali/ minggu
  • Laser excimer 308 nm, dengan response rate 60-70% setelah terapi 2x/ minggu selama 9 minggu
  • Lainnya: tato, rias wajah, pembedahan (grafting)

Pityriasis Versicolor

Pityriasis versicolor merupakan infeksi jamur (Malassezia sp.), yang menimbulkan bercak datar diskolorasi kulit, dengan skuama/ sisik halus di badan dan ekstremitas. Predisposisinya adalah iklim tropis (suhu tinggi dan lembab). Diagnosis klinis ditambah pemeriksaan mikroskopis kerokan kulit (tampak jamur). Tatalaksana menggunakan shampo ketoconazole 2% (1 kali sehari delama 5 hari). Alternatif lainnya, shampoo selenium sulphide 2.5% (1 kali sehari selama 7 hari). Perubahan warna pada kulit dapat menetap beberapa bulan setelah pengobatan, bahkan permanen.

Pityriasis alba

Pityriasis alba merupakan eksim bersisik superfisial yang ringan/ mild, berwarna terang, biasanya muncul di pipi, dagu, dan lengan. Kondisi ini terjadi pada 5% anak-anak. Umumnya terjadi pada musim panas, karena kulit sekitar menjadi lebih gelap dan kontras. Diagnosis klinis, pemeriksaan kerokan kulit hanya dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding (Pityriasis versicolor). Kondisi ini dapat sembuh sendiri, penggunaan pelembab dapat membantu mengurangi sisik (kulit kering).

Skincare, apakah berguna untuk bercak hipopigmentasi?

Sejauh ini, tidak ada produk perawatan kulit yang terbukti dapat memperbaiki lesi hipopigmentasi.


Terapi Medikamentosa

  • Krim kortikosteroid potensi kuat


  • Penghambat kalsineurin (Pimecrolimus, tacrolimus)

Ekspektasi:

  • Psoralen/ Methoxalen


  • Shampoo ketoconazole

  • Shampoo Selenium sulphide

Prosedur

Prosedur-prosedur yang dapat dilakukan dalam kondisi hipopigmentasi bertujuan untuk menstimulasi pigmen/ repigmentasi. Prosedur non-invasif antara lain fototerapi, laser excimer, fractional ablative CO2 laser. Prosedur invasif atau pembedahan repigmentasi dengan grafting/ tandur kulit, memiliki risiko bekas luka, infeksi, dan warna kulit yang tidak merata, serta hanya dapat dilakukan pada vitiligo yang stabil (pada kasus vitiligo). Seiring dengan perkembangannya, terdapat beberapa prosedur alternatif seperti needling (nama lain: microneedling), yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Needling/ microneedling

Microneedling merupakan prosedur non-bedah dan non-ablatif untuk peremajaan wajah yang melibatkan alat micro-needling untuk menciptakan cedera/ luka terkontrol pada kulit.

Alat dan bahan:

 


Alat microneedling bervariasi dari segi material (silikon, kaca, metal, polimer), dan jarum. Panjang jarum mencapai 3 mm (namun yang sering digunakan ukuran 0,5 mm untuk meminimalisir perdarahan dan mempercepat penyembuhan).


Mekanisme kerja:

Saat jarum tipis menusuk kulit, menyebabkan luka/ lubang kecil. Kemudian, luka/ lubang ini akan menutup secara spontan dalam 10 menit, sehingga integritas lapisan epidermal tetap intak. Luka/ cedera yang ditimbulkan mempengaruhi serat kolagen superfisial dan pembuluh darah kecil, menstimulasi kaskade inflamasi, termasuk pelepasan dari platelet-derived growth factors yang mengubah dan aktivasi fibroblast growth-factor, dan menstimulasi produksi kolagen, elastin, dan kapiler baru.


Metode microneedling juga dapat dikombinasikan dengan aplikasi obat-obatan atau bahan aktif lainnya (mesotherapy). Dalam hal repigmentasi, beberapa penelitian menunjukkan hasil dengan kombinasi microneedling dan tacrolimus, 5-fluorouracil, dan stem cells.


Keuntungan:

  • Peremajaan wajah dari garis halus, keriput, memperbaiki tekstur dan masalah pigmentasi pada kulit.
  • Cocok untuk kulit sensitif.
  • Mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi pasca-prosedur.
  • Dapat dilakukan di luar ruang operasi (office-setting)
  • Aman untuk diulang beberapa kali karena lapisan epidermis tidak dirusak.
  • Pasien dapat langsung beraktivitas seperti biasa setelah beberapa hari, tergantung kedalaman jarum, karena efek samping minimal dan tidak menimbulkan bekas.

Prosedur:

  • Hindari penggunaan krim, rias wajah, atau produk topikal lainnya pada hari-H dilakukan prosedur.
  • Petugas kesehatan akan mengaplikasikan krim anestesi lokal pada area prosedur (alternatif: anestesi injeksi).
  • Alat microneedling akan diaplikasikan ke area kulit beberapa kali, ke arah yang berbeda-beda (vertikal, horizontal, diagonal).
  • Kemudian akan muncul lubang/ luka kecil yang akan menstimulasi regenerasi sel kulit.
  • Lama prosedur tergantung dari luas dan kondisi kulit (5-60 menit).
  • Prosedur dapat diulang minimal 6 minggu kemudian.

Dalam hal repigmentasi, hasil lebih signifikan bila dikombinasikan dengan obat-obatan atau bahan aktif. Prosedur microneedling pada hipopigmentasi dapat diulang lebih sering, setiap 1-2 minggu dalam 6 bulan (maksimal). Hasil dapat diobservasi setiap 3 bulan. Repigmentation rate mencapai 70-80%.

Efek samping micro-needling antara lain kulit kering, bersisik, kemerahan, dan bengkak, dapat menetap beberapa hari (tergantung kedalaman penetrasi jarum). Setelah prosedur, pasien disarankan melindungi diri dari matahari selama beberapa minggu. 

Catatan: 

Kondisi hipopigmentasi dengan penyebab yang berbeda-beda menghasilkan kondisi kulit yang berbeda. Hipopigmentasi akibat bekas luka bakar yang telah merusak struktur dan integritas lapisan kulit, berbeda dengan kondisi vitiligo, dimana lapisan kulit dalam kondisi normal. Di sisi lain, hipopigmentasi pasca-inflamasi tidak bersifat progresif seperti vitiligo (ada yang stabil dan tidak stabil). Sehingga mempengaruhi efektivitas dan pendekatan terhadap terapi. 

Source

  1. Saleem M, Ousseduk E, Picardo M, Schoch JJ. Acquired Disorders with Hypopigmentation: A Clinical Approach to Diagnosis and Treatment. J Am Acad Dermatol 2019; 80: 1233-50.
  2. Hill J. An Approach to Hypopigmentation. BMJ 2017; 356:i6534. doi: 10.1136/bmj.i6534
  3. Birlea SA, Spritz RA, Norris DA. Chapter 74. Vitiligo. In: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolff K. eds. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine, 8e New York, NY: McGraw-Hill; 2012. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=392&se ctionid=41138776. Accessed March 09, 2018
  4. Speeckaert R, van Geel N. Vitiligo: An Update on Pathophysiology and Treatment Options. Am J Clin Dermatol. 2017;18(6):733–44.
  5. Vachiramon V, Thadanipon K. Postinflammatory Hypopigmentation. Clinical and Experimental Dermatology 2011; 36: 708-714.
  6. Silverberg NB, Lin P, Travis L, Farley-Li J, Mancini AJ, Wagner AM, et. al. Tacrolimus Ointment Promotes Repigmentation of Vitiligo in Children: A Review of 57 Cases. J Am Acad Dermatol 2004; 51: 760-6.
  7. https://dermnetnz.org/topics/skin-needling/
  8. Busch KH, Bender R, Walezko N, Aziz H, Altintas MA, Aust MC. Combination of medical needling and non-cultured autologous skin cell transplantation (renovacell) for repigmentation of hypopigmented burn scars in children and young people. Ann Burns Fire Disasters. 2016;29(2):116‐122.
  9. Ebrahim HM, Elkot R, Albalate W. Combined microneedling with tacrolimus vs tacrolimus monotherapy for vitiligo treatment [published online ahead of print, 2020 Feb 11]. J Dermatolog Treat. 2020; 1‐6. Doi: 10.1080/09546634.2020.1716930
  10. Mina M, Elgarhy L, Al-Saeid H, Ibrahim Z. Comparison between the efficacy of microneedling combined with 5-fluorouracil vs microneedling with tacrolimus in the treatment of vitiligo. J Cosmet Dermatol. 2018;17(5):744‐751. doi:10.1111/jocd.12440
  11. Ebrahim HM, Albalate W. Efficacy of microneedling combined with tacrolimus versus either one alone for vitiligo treatment. Journal of Cosmetic Dermatology. 2020 Apr;19(4):855-862. DOI: 10.1111/jocd.13304.
  12. Malik N, Singh Y, Goyal T. A Simple Office-based Procedure for Patients with Extensive Vitiligo. Journal of the American Academy of Dermatology 2016; 75(5): 195-197.